Pendidikan adalah hak dasar, namun bagi ribuan anak di wilayah pesisir dan sungai Indonesia, “jalan kaki ke sekolah” adalah sebuah kemewahan. Di wilayah pedalaman, jalan raya mereka adalah arus sungai dan gelombang laut.
Berdasarkan data Indonesia memiliki ribuan desa yang masuk dalam kategori Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ribuan siswa setiap harinya harus bertaruh nyawa menyeberangi perairan dengan sampan seadanya. Tanpa infrastruktur transportasi yang memadai, angka putus sekolah di wilayah kepulauan tetap menjadi tantangan besar bagi bangsa kita.

Mengapa Rumah Asuh Menginisiasi Program Perahu Sekolah?
Rumah Asuh percaya bahwa kecerdasan anak bangsa tidak boleh terhenti karena masalah geografis. Tantangan akses di pedalaman bukan sekadar jarak, tapi juga keamanan dan biaya. Banyak orang tua di pelosok harus merogoh kocek dalam hanya untuk menyewa perahu kayu yang terkadang sudah bocor dan tidak beratap demi mengantar anak mereka sekolah.

Jika isu ini tidak diintervensi sekarang, kita akan menghadapi “Lost Generation” di wilayah pesisir. Anak-anak yang memiliki potensi besar akan kehilangan motivasi, tertinggal secara kognitif, dan pada akhirnya memperlebar jurang kesenjangan sosial di masa depan. Perahu Sekolah bukan sekadar alat transportasi; ini adalah jembatan menuju cita-cita.
Jejak Kolaborasi: Mewujudkan Akses Pendidikan Aman di Pelosok Negeri

Bersama para mitra strategis, Rumah Asuh telah mengukir cerita perubahan di berbagai titik di Indonesia:
1. Kepulauan Riau: SDN 14 Galang, Pulau Air Raja, Batam
Di Pulau Air Raja, sebanyak 54 siswa dan 7 guru sebelumnya harus bertaruh nyawa setiap pagi. Menggunakan perahu sewaan yang tidak layak dan tanpa pelindung, perjalanan laut menjadi risiko harian. Bekerja sama dengan PT SMI, Rumah Asuh menghadirkan Perahu Sekolah dengan spesifikasi mesin 15PK lengkap dengan atap pelindung. Kini, perjalanan ke sekolah bukan lagi soal ketakutan, melainkan kenyamanan dan ketepatan waktu.
2. Maluku: SMAS Muhammadiyah Olong Sawai, Maluku Tengah
Tantangan serupa dihadapi oleh 120 siswa dan guru di Maluku Tengah. Perahu kayu yang bocor seringkali membuat seragam dan buku mereka basah sebelum sampai di kelas. Intervensi kolaboratif bersama PT SMI mengganti perahu tidak layak tersebut dengan armada baru yang lebih tangguh, memastikan generasi penerus di Maluku dapat melaut menuju masa depan yang lebih cerah.

3. Kalimantan: SMPN 5 Kelay, Berau
Melalui kolaborasi dengan Pasar Modal Indonesia, program ini merambah ke aliran sungai di Kalimantan Timur. Proses pembangunan perahu di SMPN 5 Kelay melibatkan kearifan lokal, di mana pengrajin setempat dilibatkan langsung dalam pengerjaan dari Januari hingga Maret 2024. Meskipun tantangan cuaca dan pengadaan bahan sempat hadir, kini perahu tersebut telah bersandar siap mengantar mimpi anak-anak Berau mengarungi sungai menuju bangku sekolah.
Sinergi untuk Dampak yang Berkelanjutan
- Keberhasilan Program Perahu Sekolah tidak lepas dari pendekatan yang terukur di lapangan. Kami memastikan setiap bantuan bukan sekadar pemberian barang, melainkan solusi yang tepat guna. Melalui identifikasi lokasi yang mendalam dan pelibatan pengrajin lokal, setiap perahu dibangun dengan standar keamanan yang mumpuni agar dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi siswa dan guru.
- Seluruh proses ini dilakukan dengan transparansi penuh—mulai dari perencanaan hingga operasional—sebagai bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga kepercayaan para mitra untuk bersama-sama membangun pendidikan di pelosok negeri.

Banyak cerita lainnya yang telah diukir bersama mitra-mitra kami, namun masih banyak pulau lain yang menunggu untuk disinggahi.
Masa depan Indonesia dimulai dari bagaimana kita mempermudah langkah mereka hari ini. Kami mengundang perusahaan dan instansi Anda untuk menjadi bagian dari solusi besar ini. Mari berkolaborasi menciptakan akses pendidikan yang lebih inklusif di seluruh pelosok Nusantara.