Homepage

Hari Gizi Nasional Sudah Berlalu, Tugas Kita Belum Selesai

Ditulis oleh

Peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari lalu mungkin sudah terlewati. Namun, semangat untuk memberantas gizi buruk tidak boleh ikut surut seiring bergantinya hari. Justru, momen pasca-peringatan ini adalah waktu yang tepat untuk melihat kembali realita yang ada.

Meskipun angka stunting di Indonesia menunjukkan tren penurunan—di mana Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi nasional kini berada di angka 19,8%—kita tidak boleh berpuas diri. Di balik persentase tersebut, faktanya masih ada sekitar 4,48 juta anak Indonesia yang tumbuh dalam bayang-bayang kekurangan gizi.

Angka statistik hanyalah deretan nomor sampai kita melihat wajah-wajah nyata di baliknya. Jutaan anak masih terjebak dalam lingkaran stunting dan gizi buruk, seperti kisah pilu yang dialami oleh Afif dan Endra.

Afif, balita berusia 4 tahun ini harus berjuang melawan komplikasi hernia, jantung bocor, dan gizi buruk yang dideritanya sejak usia 4 bulan. Akibatnya, tumbuh kembang Afif terhambat signifikan; ia belum bisa duduk, berjalan, maupun berbicara. Perjuangannya terasa kian berat karena ia harus tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah.

Di sisi lain, ada Endra yang tengah berjuang melawan cerebral palsy sekaligus gizi buruk. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat kebutuhan nutrisi vital bagi otaknya seringkali tak terpenuhi. Kini, Endra tidak bisa berjalan dan hanya mampu bergerak dengan cara menyeret tubuhnya di lantai.

Kisah Afif dan Endra adalah “alarm” bagi kita semua. Penurunan angka secara statistik memang sebuah prestasi, namun perjuangan nyata bagi anak-anak di lapangan masih jauh dari kata berakhir.

Semoga kedepannya, kolaborasi berbagai pihak dapat terus terjalin untuk memastikan setiap anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan mendapatkan akses gizi yang layak. Karena sejatinya, masa depan bangsa bermula dari apa yang ada di piring makan anak-anak kita hari ini.

Bagikan

Cerita Lainnya

Bantuan Operasional untuk Korban Gempa NTT: Menyalurkan Harapan di Tengah Pemulihan

Oktober 2026 – Masa pemulihan pascabencana selalu menjadi fase yang krusial, terutama

Di Balik Senyum Ibu: Ketangguhan Perempuan Pejuang Keluarga di Pelosok Negeri

Oktober 2026 – Di balik setiap keluarga yang tetap mampu bertahan melewati

Membuka Jalan Sekolah yang Aman bagi Anak-Anak Pedalaman

September 2026 – Bagi kebanyakan anak, perjalanan ke sekolah mungkin hanya membutuhkan

Satu Buku, Satu Kesempatan: Membawa Jendela Dunia ke Pedalaman

September 2026 – Membaca adalah fondasi paling awal dari seluruh proses belajar.

Mari hadirkan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia dengan menciptakan kebaikan untuk mereka
Ajukan program kebaikan bagi anak Indonesia