13 Februari 2026 – Dua hari lagi, tepatnya pada tanggal 15 Februari, kita akan memperingati Hari Kanker Anak Sedunia (International Childhood Cancer Day). Momen ini bukan sekadar perayaan di kalender kesehatan, melainkan pengingat bagi kita semua bahwa di balik tawa ceria anak-anak, ada ribuan pejuang cilik yang sedang bertarung nyawa melawan penyakit ganas ini.
Kanker pada anak seringkali datang tanpa permisi, dengan gejala yang tampak sepele, hingga akhirnya terlambat disadari. Realita pahit inilah yang kini harus dihadapi oleh Raisah dan keluarganya.

Waspada Gejala yang Tak Terduga
Seringkali kita menganggap memar atau benjolan pada anak sebagai akibat dari keaktifan mereka bermain. Namun, kisah Raisah mengajarkan kita untuk lebih peka.
Semua bermula dari insiden sederhana: Raisah terjatuh. Awalnya, hanya muncul memar di bagian bokongnya. Siapa sangka, memar yang disangka luka biasa itu justru terus memburuk dan menjadi pintu masuk bagi mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan orang tuanya.

Kondisi Raisah menurun drastis. Ia mulai kesulitan buang air kecil dan besar, perutnya perlahan membuncit tidak wajar, hingga kemampuan berjalannya hilang. Setelah pemeriksaan mendalam, vonis dokter bagaikan petir di siang bolong: Kanker Anus Stadium 4.
Perjuangan di Balik Kostum Badut Sang Ayah
Kini, masa kecil Raisah tak lagi diisi dengan berlarian di taman. Perutnya harus dilubangi melalui operasi stoma untuk jalur pembuangan kotoran (kolostomi). Rangkaian kemoterapi yang menyakitkan pun menjadi rutinitas barunya.
Namun, kanker tidak hanya menyerang fisik si penderita, tapi juga menguji ketahanan seluruh keluarga. Di balik perjuangan Raisah, ada sosok Ayah yang luar biasa.

Demi pengobatan sang putri, harta benda keluarga telah habis terjual hingga mereka kini harus menumpang tinggal. Sang Ayah kini berjuang mencari nafkah dengan menjadi badut jalanan. Sebuah ironi yang menyayat hati: Sang Ayah harus menghibur orang lain dengan topeng jenaka di jalanan, sementara hatinya menangis memikirkan putrinya yang sedang berjuang melawan maut di rumah sakit.
Mari Lebih Peduli
Menjelang Hari Kanker Anak Sedunia ini, kisah Raisah menjadi “alarm” bagi kita para orang tua dan masyarakat. Kanker pada anak bisa menyerang siapa saja dan gejalanya bisa sangat menipu.
Mari jadikan momen 15 Februari nanti sebagai titik balik untuk meningkatkan kepedulian kita:
- Peka terhadap perubahan fisik anak: Jangan abaikan keluhan nyeri, memar yang tak kunjung sembuh, atau benjolan sekecil apa pun.
- Dukungan Moral: Anak-anak pejuang kanker dan keluarganya membutuhkan dukungan emosional yang besar dari lingkungan sekitar agar tidak merasa berjuang sendirian.
Untuk Raisah dan seluruh anak pejuang kanker di luar sana, semangat kalian adalah inspirasi terbesar bagi kami. Teruslah berjuang, karena harapan itu selalu ada🎗️