Homepage

Hari Ibu: Tentang Doa, Kerja Keras, dan Pengabdian yang Tak Pernah Usai

Ditulis oleh

Menjadi seorang ibu adalah peran tanpa tanda jasa yang luar biasa. Ibu adalah tempat pulang ternyaman bagi anak-anaknya di tengah dunia yang seringkali melelahkan. Namun, seringkali kita lupa, bahwa di balik senyum dan doa-doa tulusnya, tersimpan lelah yang tak pernah terucap. Mereka selalu berusaha sekuat tenaga, memberikan yang terbaik demi kebahagiaan buah hatinya.

Definisi ketangguhan dan kasih sayang tanpa syarat ini tergambar nyata dalam sosok Nek Tumini, salah satu penerima manfaat Rumah Asuh.

Menggantikan Peran Ibu di Usia Senja

Di usianya yang tak lagi muda, Nek Tumini tidak menikmati masa tua dengan beristirahat. Ia justru harus banting tulang menjadi buruh serabutan di ladang orang. Semua peluh itu ia teteskan demi satu tujuan: bisa makan dan membelikan obat untuk cucu tercintanya yang mengidap Down Syndrome dan epilepsi.

Di sebuah rumah sederhana yang masih beralaskan tanah, Nek Tumini merawat sang cucu dengan penuh kesabaran. Meski sang cucu kini berusia 9 tahun, kondisinya membuat ia masih bergantung sepenuhnya layaknya bayi. Dengan tangan keriputnya, Nek Tumini menyuapi bubur, memandikan, hingga menina bobokan cucunya.

Ketegaran di Tengah Keterbatasan

Ujian terberat bagi Nek Tumini bukan pada lelah fisiknya, melainkan saat melihat sang cucu menderita. Hatinya seringkali hancur dan bingung ketika epilepsi sang cucu kambuh.

Keterbatasan ekonomi memaksanya menelan pahitnya kenyataan; ia tak sanggup membelikan obat pereda kejang. Seringkali, saat kambuh terjadi, Nek Tumini hanya bisa memeluk sang cucu dengan air mata, membiarkan serangan itu berlalu tanpa bantuan medis yang memadai.

Namun, di tengah himpitan hidup yang begitu berat, Nek Tumini adalah sosok yang tak pernah mengeluh. Keimanan dan ketulusannya luar biasa. Setelah lelah seharian bekerja di ladang, Nek Tumini masih menyempatkan diri mengabdikan tenaganya untuk membersihkan masjid kampung secara rutin dan sukarela.

Harapan Sederhana Nek Tumini

Tidak ada permintaan muluk dari bibirnya. Doa Nek Tumini sangat sederhana, namun begitu dalam:

“Saya hanya berharap agar tetap diberi kesehatan supaya bisa terus merawat cucu saya, dan semoga ada rezeki untuk membeli obat agar dia bisa sembuh atau setidaknya tidak sering kambuh.”

Kisah Nek Tumini adalah tamparan sekaligus pelajaran bagi kita semua tentang arti pengorbanan dan kasih sayang yang sesungguhnya. Mari kita doakan dan dukung perjuangan Nek Tumini agar senyumnya tak lagi tertutup oleh kecemasan akan esok hari.

Bagikan

Cerita Lainnya

Jejak Kebaikan 2025: Jutaan Harapan Baru Terukir Berkat Kakak Baik

Waktu bergulir begitu cepat, namun jejak kebaikan yang kita tinggalkan di tahun

Hari Gizi Nasional Sudah Berlalu, Tugas Kita Belum Selesai

Peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari lalu mungkin sudah terlewati. Namun,

Mengenal Vaskulitis dan Sepsis: Penyakit Langka yang Merenggut Keceriaan Anak

Di dunia medis, terdapat berbagai penyakit langka yang mungkin terdengar asing di

Sumatera Masih Berduka: Menguatkan Harapan di Tengah Krisis Akhir Tahun

Diawal pergantian tahun baru ini, duka mendalam masih menyelimuti Pulau Sumatera. Ketika

Mari hadirkan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia dengan menciptakan kebaikan untuk mereka
Ajukan program kebaikan bagi anak Indonesia