Homepage

Harapan Baru Anak-anak Sekapat Bersama Perahu Sekolah

Ditulis oleh

Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang dilewati garis ekuator sehingga memiliki hujan, suhu, hingga kelembaban yang cukup tinggi. Kalimantan juga memiliki arti “banyak sungai” karena banyak dilintasi oleh sungai, bahkan sungai terpanjang di Indonesia pun terdapat di Pulau Kalimantan yaitu Sungai Kapuas. Dibalik semua itu, kesenjangan pendidikan di Kalimantan merupakan masalah besar yang harus lebih diperhatikan, terutama dalam akses pendidikan. Banyak anak-anak di daerah pedalaman harus melewati perjalanan yang sangat panjang dengan melintasi sungai dan hutan demi bisa menempuh pendidikan.

Salah satu cerita datang dari siswa-siswi SDN 6 Nanga Sekapat, Sintang, Kalimantan Barat. Rata-rata siswa disana berasal dari desa yang berbeda. Setiap pagi, mereka berangkat menuju tepian sungai untuk menaiki sampan tua yang sudah rapuh yang hanya bisa dinaiki oleh 2 orang. Sebab jika lebih, khawatir akan terbalik di tengah sungai. Akses sungai adalah rute tercepat anak-anak untuk sampai ke sekolah. Mereka harus mendayung selama setengah jam dari Ketungau Hilir menuju sekolah di Ketungau Tengah. Siswa SDN 06 Nanga Sekapat bisa saja pergi sekolah dengan berjalan kaki. Namun, akan memakan banyak waktu dimana waktu tempuhnya mencapai 1,5 jam.

Jika cuaca sedang hujan, anak-anak sekapat tidak bisa pergi sekolah sebab air sungai akan naik disertai arus yang sangat deras. Sampan tua itu juga sering terbalik ditengah laut sehingga membuat baju mereka sering basah kuyup sampai barang bawaannya hilang terbawa arus. Kondisi ekonomi menjadi kendala anak-anak sekapat tidak mampu untuk sewa perahu yang biayanya cukup mahal. Hal itu yang membuat mereka tetap menggunakan sampan, meskipun kecil yang penting mereka bisa tetap sekolah. 

Pada bulan september 2022, mimpi siswa-siswi SDN 06 Nanga Sekapat telah terwujud. Yayasan Rumah asuh bekerja sama dengan LaunchGood dan Benihbaik.com mengantarkan perahu untuk anak-anak Sekapat. Akhirnya, 40 siswa dan guru dapat pergi menyusuri sungai secara bersamaan dengan tiga titik dermaga sebagai lokasi penjemputan. Orang tua siswa sudah tidak perlu memikirkan uang sewa lagi karena mereka hanya perlu patungan sebesar Rp. 3000/ bulan untuk membeli 2 liter bensin setiap harinya.

Semangat anak-anak sekapat tidak pernah luntur walaupun harus melewati sungai dan hutan yang bisa mengancam nyawa mereka kapan saja. Selain menyebrangi sungai, perjalanan mereka dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan untuk bisa sampai ke sekolah. Rasa lelah tentu saja mereka rasakan, namun seringkali rasa lelahnya tak terasa karena sambil bercanda bersama. Kini orang tua siswa juga bersedia untuk mengantarkan anak-anak secara bergiliran. Sehingga rasa khawatir pun semakin hilang karena anak-anak bisa menikmati perjalanan sambil bercengkrama dan tidak perlu mendayung sampan yang sudah rapuh lagi.

Bagikan

Cerita Lainnya

Penanaman Mangrove di Teluk Love Jember, Upaya Menjaga Ekosistem Pesisir

Menanam Hari Ini, Menjaga Masa Depan Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan,

Kisah Ridho: Rela Berjualan Kopi Sambil Menggendong Adiknya

Di usia remaja, sebagian besar anak seusia Ridho menghabiskan waktu untuk belajar,

Sepeda Baru untuk Perjuangan Pendidikan Anak

Perjalanan menuju sekolah seharusnya tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih pendidikan.

Kartini Masa Kini: Perjuangan Tulus Wida Merawat Adik dalam Keterbatasan

April 2026 – Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini sebagai

Mari hadirkan kebahagiaan bagi anak-anak Indonesia dengan menciptakan kebaikan untuk mereka
Ajukan program kebaikan bagi anak Indonesia