Di era digital saat ini, akses informasi terasa begitu mudah bagi masyarakat perkotaan. Namun, pemandangan kontras masih terjadi di beberapa wilayah pedalaman Indonesia. Di saat anak-anak kota mulai beralih ke gadget, ratusan anak di pelosok Kalimantan Timur justru baru pertama kali merasakan serunya membuka halaman demi halaman buku cerita.
Melalui program kepedulian terhadap pendidikan, sebanyak 100 lebih siswa di beberapa titik strategis Kalimantan Timur baru saja menerima bantuan buku bacaan. Penyaluran ini tersebar di beberapa sekolah, antara lain:
- MTs Raudhatul Ulum, Balikpapan
- SMPN 8 Balikpapan
- SMPN 5 Kelay, Kabupaten Berau
- SDN 01 Long Keluh, Kabupaten Berau

Tantangan Nyata: Berjuang Melawan Buta Aksara sejak Dini
Bantuan ini hadir bukan tanpa alasan. Di lapangan, para guru di wilayah seperti Long Keluh dan Kelay harus mengeluarkan usaha ekstra. Banyak siswa yang masuk SD tanpa melalui pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK), sehingga mereka belum bisa membaca sama sekali.

Di sinilah buku bacaan fisik menjadi penyelamat. Kehadiran buku-buku baru, terutama yang dilengkapi gambar menarik, menjadi stimulan penting. Setidaknya, ketika anak-anak belum mahir mengeja kata, mereka sudah terpapar dan tertarik dengan isi buku melalui visual yang disajikan.
Sebelum bantuan ini datang, anak-anak di sekolah tersebut hanya mengenal buku paket pelajaran yang kaku. Tidak heran, saat kardus-kardus buku cerita rakyat, novel, dan buku bergambar pertama kali dibuka, para siswa langsung berebut dengan antusias untuk meminjamnya.
Buku Fisik: Solusi Utama di Daerah Minim Listrik
Ada alasan kuat mengapa bantuan dalam bentuk buku fisik sangat krusial bagi sekolah-sekolah di pelosok Berau dan Balikpapan ini. Daerah-daerah tersebut masih sering mengalami pemadaman listrik secara massal. Di saat teknologi digital lumpuh tanpa daya, buku fisik tetap berdiri kokoh sebagai bahan utama pembelajaran yang tidak tergantikan oleh gadget apa pun.

Meskipun secara statistik nilai literasi dan numerasi nasional belum melesat secara instan, perubahan nyata sudah mulai terlihat di ruang kelas. Anak-anak yang dulunya pasif kini mulai menunjukkan kebiasaan baru: mereka suka membaca di waktu luang dan menjadi jauh lebih aktif saat sesi diskusi di kelas.
Harapan yang Belum Usai
Buku pelajaran dan bacaan yang ada kini telah dimanfaatkan secara rutin oleh siswa dan guru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Namun, perjalanan meningkatkan literasi di Kalimantan Timur masih panjang.

Saat ini, sekolah-sekolah di wilayah pedalaman tersebut masih membutuhkan tambahan buku untuk memperkaya perpustakaan mereka, di antaranya:
- Buku cerita anak dan buku bergambar
- Novel remaja dan cerita rakyat
- Buku bertema sains dan teknologi dasar
- Buku penunjang akhlak serta buku agama (termasuk agama Kristen)
Rumah Asuh mengajak seluruh elemen masyarakat, komunitas, hingga sektor korporasi untuk terus bersama-sama mengawal lentera pendidikan di batas negeri. Kolaborasi kita hari ini adalah penentu apakah anak-anak di pelosok Kelay dan Balikpapan bisa menatap masa depan dengan peluang yang sama rata.